Sunday, May 3, 2020

Bantuan COVID-19 terhenti, digunakan untuk aksi politik


Beritanews-Sementara jutaan orang keluar dari pekerjaan tergantung pada kedatangan bantuan sosial untuk menghadapi krisis COVID-19, para birokrat telah menyeret mereka dalam proses distribusi dan bahkan telah mengambil kesempatan untuk meningkatkan popularitas mereka di antara para pemilih.

Distribusi paket makanan dan bantuan tunai tertinggal di luar Jakarta karena banyak kabupaten dan kota terus mengumpulkan data tentang populasi mereka yang miskin, masalah yang diperingatkan para ekonom.

Di Jawa Tengah, Bupati Klaten Sri Mulyani menghadapi kritik karena memasang citranya pada botol pembersih tangan dalam paket bantuan yang disponsori oleh Kementerian Sosial. Dia sedang mencari masa jabatan kedua dalam pemilihan daerah yang dijadwalkan berlangsung pada bulan Desember.

Sri membantah bahwa itu adalah pilihannya untuk menempelkan stiker-stiker wajahnya pada botol-botol pembersih tangan, dengan mengatakan bahwa paket-paket bantuan itu didistribusikan kepada orang-orang dari lembaga lain, termasuk pemerintah kabupaten dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).

“Bantuan dari kementerian sosial terbatas. Lebih banyak paket datang dari kami. Saya pribadi juga memberikan pembersih tangan, ”kata politisi PDI-P itu. Sri mengatakan stiker itu mungkin diletakkan di botol oleh orang-orang yang ingin menodai citranya. Sekitar 24,8 juta orang Indonesia, 9,22 persen dari populasi, dianggap miskin, hidup di bawah US $ 1 per hari, menurut data Statistik Indonesia. Menurut laporan Bank Dunia yang berjudul Aspiring Indonesia, lebih dari 60 juta orang Indonesia berisiko jatuh ke dalam kemiskinan.

AGENPOKER

Pemerintah pusat secara bertahap telah menerapkan jarak fisik di seluruh negeri di bawah pembatasan sosial skala besar (PSBB) selama sebulan terakhir. Mereka juga melaksanakan program bantuan sosial untuk membantu masyarakat kurang mampu menanggung kesulitan sosial dan ekonomi dari pembatasan tersebut.

Pemerintah telah menyisihkan Rp 110 triliun ($ 7,49 miliar) untuk program jaring pengaman sosial, termasuk untuk perluasan program yang ada seperti Program Keluarga Harapan (PKH) di bawah Data Terpadu Kementerian Sosial tentang Kesejahteraan Sosial (DTKS) dan bentuk-bentuk lain dari bantuan sosial dan transfer tunai untuk mereka yang tidak ada dalam database.

Masalah muncul dalam melacak mereka yang tidak ada dalam daftar. Beberapa keluarga miskin mengeluh karena tidak menerima paket sementara lingkungan yang kaya di sekitarnya dilaporkan memilikinya.

0 comments:

Post a Comment